Rabu, 03 Januari 2018

PIAGAM GUMI SASAK : Penyatu Tiga Suku di Nusa Tenggara Barat


Piagam Gumi Sasak ialah dokumen yang berisi kesepakatan bersama untuk menyambung,menegakkan mengingatkan, dan menghidupkan kembali kebudayaan sasak berdasarkan landasan atau pedoman yang sejatinya. Drs. H. L. Agus Fathurrahman adalah pencetus sekaligus pelopor Piagam Gumi Sasak ini.
Tokoh-tokoh pencetus Piagam Gumi Sasak ialah para sejarawan dan tokoh masyarakat yang mengalami keresahan di dalam hati mereka karena melihat kebudayaan Suku Sasak yang mulai tergerus oleh modernisasi dan budaya barat. Budaya barat yang kian merasak ke dalam diri bahkan jiwa Suku Sasak perlahan membuat Suku Sasak lupa akan budaya mereka sendiri dan mulai mengadopsi budaya barat yang notabene nya melenceng dari budaya yang diwariska oleh nenek moyang dulu.
Sebagaimana sesenggak/ petuah nenek moyang suku sasak “lumbung sinabe bukak kuri lawing datar awun-awun tanpe sangke, bumi ngantul tanppa cantel. Erak kanak lamun wah tebukak lendang galuh bikin pait, eakn loek kaok bodak bekelayar, pade inget dendek lengah dendek lupak periri bale langgak gubuk mepeng gumi paer” yang bermakna suatu saat di tanah kita akan didatangi orang asing dari luar (turis) yang memenuhi tanah kita, kita harus tetap ingat dan jangan lengah untuk tetap menjaga tanah air kita karena mereke berniat untuk mengambil alih lagi bangsa ini. Sudah terbukti saat ini, pulau Lombok didominasi oleh investor-investor dari luar negeri yang menanam sahamnya. Mereka mengambil alih kuasa (pemerintahan ) dengan menghasut pemimpin-pemimpin kita dengan kedok yang berbau unsur agama dan iming-iming untuk mensejahterakan warga. negara kita kembali dijajah oleh bangsa lain dengan cara yang halus dan penuh muslihat dan bahkan lebih parah dari penjajahan sebelum kemerdekaan. Hilangnya moral dan nilai-nilai luhur bangsa ini menjadi pukulan dan beban berat untuk kita selaku generasi muda penerus bangsa.
Piagam Gumi Sasak ini dibacakan pertama kali oleh Dr. Fajri di hadapan majelis adat sasak pada tanggal 26 desember 2015. Dengan dibuat dan disahkannya Piagam Gumi Sasak ini, diharapkan masyarakat suku sasak sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya atau adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang dulu. Karena budaya merupakan identitas kita di mata dunia. Berikut adalah isi dari Piagam Gumi Sasak.
 


Bismillahirrahmanirrahim.
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H
26 Desember 2015

Ditandatangani bersama kami,
  1. Drs. Lalu Azhar
  2. Drs. Haji Lalu Mujtahid
  3. Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
  4. TGH. Ahyar Abduh
  5. Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph. D
  6. Dr. Muhammad Fajri, M.A
  7. Dr. Jamaludin, M. Ag
  8. Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
  9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum
  10. Dr. H. Sudiman M. Pd
  11. Dr. H. L., Agus Fathurraman
  12. Mundzirin
  13. L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.

25 komentar:

  1. Luar biasa.penyatu tiga suku.
    Tapi mungkin yg dimaksud 'tiga suku di NTB, bukan Lombok. Karena kan Sumbawa dan Bima diluar Lombok. Terima kasih😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astaga iya terimakasih saudari. Makasih masukannya 😊

      Hapus
  2. Informasinya sangat bermamfaat sist

    BalasHapus
  3. Mantap informsi yang sangat bermanfaat....

    BalasHapus
  4. luar biasa ..
    jadi salut sama suku sasak

    BalasHapus
  5. Semoga dengan adanya piagam ini, kita selaku masyarakat sasak sadar akan jati diri kita yang sebenarnya😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin.. Terimakasih sudah mampir 😊😊

      Hapus
  6. Bagus, semoga ketiga suku ini tetap terjalin dengan baik dengan adanya piagam ini dan semoga lebih banyak lagi info tentang kebudayaan sasaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Terimakasih sudah mampir 😊😊

      Hapus
    2. Mari qta menjaga budaya qta dr orng2 yg memiliki kepentingan sndiri yang bsa merusak budaya

      Hapus
  7. Menambah wawasan nih, inilah alasan kenapa saya beli kuota. Btw keramiknya beli dimana ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha tuh kan mulai dah bapak ini wkwkwk nnti saya tanyakan di mana tempat beli keramiknya yaa

      Hapus
    2. O iya tu jempolnya kurang batu akik, biar lebih mantep potonya

      Hapus
  8. Luar biasa terus lestarikan budaya sasak

    BalasHapus